Senin, 22 Oktober 2007

Biofuel Potensial

Kenaikan harga minyak mentah adalah satu hal yang wajar karena permintaan meningkat oleh pertumbuhan ekonomi dunia sedangkan pasokan dunia cenderung menurun. Adanya kemungkinan terjadinya perang antara 2 negara atau tidak beroperasinya beberapa kilang bisa mempercepat kenaikan harga untuk periode jangka pendek.

Mengingat cadangan minyak mentah yang makin menipis, bahan bakar alternatif seperti biofuel mulai diteliti. Eropa dan Amerika Serikat meneliti Alkohol dan Hidrogen sedangkan Indonesia meneliti minyak sawit, minyak jarak, minyak kelapa dan alkohol.

Kapankah energi pengganti ini akan dikomersialkan secara besar-besaran?. Saat ini, nampaknya masih terlalu mahal dibandingkan harga minyak bumi. Disamping itu, bahan baku pengganti ini berkompetisi dengan bahan baku makanan. Minyak sawit adalah bahan baku minyak goreng dan CPO yang sangat dibutuhkan oleh industri kosmetik dan makanan. Jagung, sorgum dan singkong sebagai bahan baku untuk membuat alkohol. Hanya limbah tebu yang tidak berkompetisi tapi jumlah pasokannya relatif tergantung jumlah gula tebu yang diproduksi. Ada dua faktor penting yang bisa jadi pemicu dimulainya pemakaian energi pengganti ini secara besar-besaran. Faktor pertama adalah harga. Apabila harga biofuel ini sudah bisa bersaing dengan harga minyak bumi maka pemakaiannya secara besar-besaran bisa dimungkinkan setelah adanya dukungan faktor kedua yaitu mesin pembangkit energi dengan bahan bakar biofuel tersebut. Harga yang bersaing bisa dicapai pada saat harga minyak bumi jauh di atas harga biofuel.

Mungkinkah ada bahan baku organik yang bisa dijadikan bahan baku biofuel tapi bukan merupakan bahan makanan? Bisa!.Peneliti Belanda telah berhasil menemukan ragi yang bisa mengolah sampah menjadi alkohol. Hal ini pula yang membuat Honda tertarik mengembangkan mesin dengan bahan bakar alkohol. Ragi yang direkayasa secara genetik bisa mengubah karbohidrat menjadi alkohol. Sedang dikembangkan lebih lanjut agar ragi ini juga bisa mengolah selulosa menjadi alkohol. Sampah organik merupakan bahan baku biofuel yang paling murah dan bisa sekaligus membersihkan lingkungan.

Indonesia punya banya peneliti rekayasa genetika, Indonesia juga punya banyak ragi, sampah organik ada di mana-mana. Semuanya sudah tersedia tinggal bagaimana hal itu bisa dimanfaatkan sehingga diperoleh formula ragi yang bisa mengolah sampah organik menjadi alkohol sebagai energi biofuel masa depan.

Indonesia punya potensi besar sebagai produsen biofuel dari minyak kelapa, sawit, dan minyak jarak sebagai pengganti solar, tapi masih perlu berharap ada perusahaan (bekerja sama dengan perusahaan) yang memproduksi mesin otomotif dengan bahan bakar biofuel tersebut. Sedangkan mesin dengan bahan bakar alkohol sudah pasti diproduksi dalam jumlah besar karena mendapat dukungan dari Eropa, Amerika Serikat dan Jepang. Nantinya, reaktor pembuat alkohol bisa diproduksi pula dalam jumlah besar dan terintegrasi dengan mesin otomotifnya sehingga konsumen tidak perlu beli alkohol tapi cukup konsentrat raginya.

Seandainya Indonesia meneliti ragi sehingga diperoleh formula konsentrat ragi yang bisa mengolah sampah organik menjadi alkohol, maka Indonesia bisa menjadi eksportir biofuel alkohol atau lebih suka impor ragi dari negara lain dan mengolah sampah organik dengan ragi tersebut atau menjadi eksportir sampah organik?

Seandainya bisa menjadi negara produsen konsentrat ragi...

Seandainya...

Tidak ada komentar: