Selasa, 18 Desember 2007

Inflasi dan daya beli

Bagi pemerintah, inflasi bisa berarti sebagai menurunnya nilai mata uang karena adanya kenaikan harga-harga barang dan jasa. Nilai inflasi biasanya dihitung kumulatif setahun. Sedangkan bagi rakyat seperti buruh industri dan buruh tani, istilah inflasi barangkali tidak bermakna sama sekali dan yang dirasakan oleh mereka adalah bahwa pendapatan mereka semakin tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup. Bila pemerintah berusaha menekan laju inflasi (seperti melalui operasi pasar dan subsidi) dengan tujuan mempertahankan daya beli masyarakat, maka hasilnya tidak akan sesuai dengan yang diharapkan. Inflasi adalah hasil akhir dari terjadinya kenaikan harga-harga sedangkan daya beli masyarakat sudah langsung turun terlebih dahulu saat harga-harga mulai naik. Bagi mereka, kenaikan harga barang dan jasa tidak menjadi masalah asalkan pendapatan mereka mampu mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Bagi industri (dan pengusaha), inflasi adalah indikasi untuk menaikkan upah buruh pada awal tahun berikutnya. Kenaikan harga barang dan jasa mereka di pasar akan memberikan tambahan keuntungkan, sedangkan kenaikan harga barang dan jasa dari pemasok hanya akan mengurangi sedikit keuntungannya. Pada industri yang menggunakan harga sebagai alat bersaing, menaikkan harga barang dan jasa yang diproduksi oleh mereka bisa mengurangi pendapatan bila kalah bersaing. Oleh karena itu, untuk mempertahankan daya saingnya, mereka akan melakukan usaha-usaha penghematan. Mereka akan bermanja-manja kepada pemerintah supaya tetap dapat subsidi BBM, supaya harga listrik tidak dinaikkan, menekan kenaikan upah buruh, dan sebagainya. Mereka bisa juga mempengaruhi pemerintah daerah dalam penetapan Upah Minimum. Dengan ikut mengatur Upah Minimum, mereka tanpa sadar bisa ikut menyebabkan daya beli masyarakat turun bila upah yang diterima buruh tidak mencukupi kebutuhan hidup. Beban industri (dan pengusaha) memang berat karena sebelum mereka bisa menikmati keuntungan, mereka harus membayar kewajibannya berupa bunga kepada bank yang memberikan pinjaman modal. Mereka juga harus membayar pajak yang besarnya bisa mencapai 35%. Dalam hal ini pemerintah barangkali masih diuntungkan meskipun harus memberi subsidi 10 - 20% atau bila bank yang memberi pinjaman modal adalah bank milik pemerintah.

Menaikkan daya beli masyarakat lebih penting dibandingkan menekan laju inflasi. Menekan laju inflasi melalui operasi pasar dan subsidi sering kali tidak efisien bila tidak boleh dikatakan pemborosan sedangkan menaikkan daya beli masyarakat bisa mendorong pertumbuhan konsumsi yang pada akhirnya menyerap tambahan investasi. Membahagiakan masyarakat dengan menaikkan pendapatannya (sehingga menaikkan daya belinya) akan dirasakan bertahun-tahun oleh para buruh dibandingkan rasa sakit yang cuma sekali dirasakan oleh industri (dan pengusaha) akibat kenaikan upah yang bisa menaikkan daya belinya. Industri (dan pengusaha) perlu didorong secara serius agar ikut meningkatkan kemakmuran rakyat. Industri yang berinovasi tidak akan merasakan kenaikan upah sebagai beban sehingga akan semakin berkembang dan yang hanya bersaing dalam harga murah hanya akan menyusahkan buruh.

Seandainya daya beli masyarakat ditingkatkan sehingga mempercepat kemakmuran rakyat...

Seandainya industri selalu berinovasi...

Seandainya...

Tidak ada komentar: