Selasa, 04 Desember 2007

Pemanasan global dan keseimbangan ekosistem

Manusia moderen, yang umumnya tinggal di kota-kota menyadari
bahwa hidup hanya sekali dan harus dinikmati. Kenikmatan duniawi ini ternyata membutuhkan energi yang tidak sedikit. Beruntunglah manusia, karena anugerah kepandaiannya membuat mereka bisa menemukan dan mengolah sumber energi sesuai dengan kebutuhannya. Semakin banyak manusia yang ingin menikmati hidup dan semakin banyak kebutuhan kenikmatan manusia, akan semakin banyak pula energi yang dikonsumsinya.

Syukurlah bahwa alam menyediakan sumber energi ini dalam jumlah yang cukup, sehingga sampai hari ini, manusia belum mengalami malapetaka karena menikmati hidup tersebut. Pertumbuhan ekonomi dunia sudah pasti akan mendorong konsumsi energi yang lebih besar lagi.

Manusia sudah menyadari bahwa ada energi yang tidak terbarukan dan ada pula yang bisa diperbaharui. Tapi karena sifat manusia yang ekonomis, maka mereka memilih energi yang lebih murah untuk kenikmatan hidupnya. Kondisi saat ini, minyak bumi masih menjadi pilihan pertama. Kepandaian mereka akan membuat mereka selalu mencari pilihan sumber energi yang paling ekonomis dan bisa terbarukan sehingga mereka
akan senantiasa tidak berkekurangan dalam penyediaan energi.

Manusia pada akhirnya menyadari bahwa mengolah sumber energi memberikan efek samping yang kurang bersahabat bagi lingkungan hidup manusia itu sendiri. Menurut penelitian mereka, pemanasan global adalah salah satu efek samping tersebut. Diyakini oleh mereka bahwa konsumsi energi berbahan karbon telah meningkatkan kandungan karbon dioksida
di muka bumi yang kemudian meningkatkan suhu bumi dan solusinya sangat sederhana yaitu dengan menanam pohon dalam jumlah yang banyak untuk menyerap karbon dioksida dari udara. Solusi ini nampaknya terlalu mudah dan belum terbukti efektivitasnya. Manusia sebaiknya mencari tahu lebih banyak hal-hal lain yang menyebabkan suhu bumi naik disamping karena bertambahnya karbon dioksida bumi. Bagaimana dengan efek samping penambangan minyak dan bahan mineral lainnya yang telah melubangi bagian dalam bumi?, atau bagaimana kalau bumi mendekati matahari?, atau barangkali permukaan bumi bertambah panas karena aktivitas di bagian dalam bumi?.

Sebagaimana diyakini manusia bahwa ekonomi akan selalu mencari keseimbangan, begitu pula dengan bumi dan alamnya yang akan selalu mencari keseimbangan, sebuah keseimbangan yang dinamis. Barangkali keseimbangan yang dinamis inilah yang harus dipelajari manusia agar kelangsungan hidupnya bisa lebih terjamin. Apakah pemanasan global merupakan reaksi alam dalam menyeimbangkan ekosistemnya ataukah awal dari ketidak-seimbangan ekosistem? Kejadian-kejadian alam yang dianggap sebagai musibah bagi manusia seperti banjir di beberapa benua, badai topan, dan gempa bumi perlu dicermati pula kaitannya dengan keseimbangan ekosistem. Apabila sistem planet ini berada dalam keseimbangan yang dinamis, boleh jadi bahwa bumi tidak selalu dalam lingkungan yang sama. Bisa jadi bahwa bumi dan planet lainnya beserta matahari terus bergerak mengembara di alam semesta ini dan hal ini
pula yang mempengaruhi perubahan-perubahan di muka bumi ini.

Dengan model pemikiran yang logis, maka bisa diyakini bahwa pemanasan global adalah awal dari ketidak-seimbangan ekosistem alam. Logikanya adalah bahwa kenaikan suhu bumi telah mencairkan es di kutub utara sehingga permukaan air laut naik dan hujan yang ditimbulkan oleh bertambahnya air ini menyebabkan banjir di bumi bagian Utara seperti benua Amerika, Eropa, Afrika dan Asia. Australia menjadi benua yang paling aman karena berada di bagian Selatan bumi. Apabila kondisi pemanasan global ini berlanjut maka bisa ada skenario bahwa manusia yang hidup di bagian Utara bumi akan bermigrasi ke Selatan dengan cara apapun untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan keturunannya. Manusia yang hidup di daerah sub tropis dan tropis akan
berjuang membendung migrasi ini karena tingkat kepadatan penduduknya yang sudah tinggi, sembari bertahan hidup dari panasnya bumi, kekeringan dan kemiskinan, penyakit-penyakit baru akan tercipta sampai keseimbangan ekosistem yang baru terbentuk kembali termasuk melalui seleksi alam, kondisi ini bisa juga menjadi sebuah awal datangnya kiamat.

Pemanasan global bisa jadi merupakan cara bumi membuat keseimbangan ekosistem yang dinamis. Suatu hal yang wajar bila konsumsi energi bertambah dan produksi karbon dioksida meningkat karena jumlah penduduk dunia bertambah setiap tahun. Meningkatnya jumlah penduduk akan meningkatkan kebutuhan air baik untuk diri manusia itu sendiri, dan lingkungan di sekitarnya termasuk tanaman yang menjadikan air sebagai kebutuhan utamanya. Kebutuhan air yang meningkat ini dipasok oleh es yang ada di kutub Utara yang dicairkan oleh panas di muka bumi. Logikanya, tanpa konsumsi minyak bumipun, pemanasan global akan terjadi karena bertambahnya jumlah penduduk dunia dan konsumsi energi minyak bumi dan pengurangan luas hutan, mungkin sedikit mempercepatnya. Bumi memang sudah tidak mungkin seperti dulu lagi karena takdir manusia adalah berkembang biak dan memenuhi muka
bumi.

Pemanasan global memang sudah terjadi dan tidak akan bisa dicegah ataupun ditanggulangi, nampaknya kita juga sudah sepakat bahwa pemanasan global disebabkan oleh meningkatnya jumlah karbon dioksida di permukaan bumi dan program pengurangan emisi tidak akan mampu menahan penambahan jumlah karbon dioksida di muka bumi selama energi diproduksi dengan bahan karbon, sehingga yang penting bagi kita sekarang ini adalah bagaimana kita bisa bertahan hidup dengan adanya
pemanasan global dan tetap konsisten dengan cita-cita bangsa yaitu untuk mensejahterakan rakyat. Artinya, segala upaya yang dilakukan untuk kepentingan negara lain tidak ada yang gratis lagi, apalagi untuk kenikmatan hidup negara lain yang lebih kaya. Setiap jasa yang kita berikan harus ada imbalannya yang nantinya akan dipakai untuk mensejahterakan rakyat. Kita harus komersial!.

Seandainya kita tetap konsisten dan selalu ingat dengan cita-cita membuat sejahtera rakyat...

Seandainya kita selalu menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama pembangunan...

Seandainya...

0 komentar: