Pendidikan harus berkualitas.
Mutu lulusannya harus terjamin dan diakui.
Pernyataan di atas memang enak dibenak dan didengar tapi, sebenarnya membingungkan.Bila dikatakan berkualitas, kualitas yang bagaimana?. Begitu pula dengan pengertian terjamin dan diakui, terjamin yang bagaimana?, diakui oleh siapa?.Berkualitas memang harus diukur.
Ada parameter-parameter yang harus ditetapkan dan parameter yang ditetapkan inilah yang disebut sebagai standar. Berkualitas itu ada standarnya, dan terjamin itu pastilah ada yang memberikan jaminan atas kualitasnya, jadi jaminan itu diberikan oleh yang membuat dan menetapkan standar. Siapa yang mengakui kualitas pendidikan?, apakah pembuat standar tersebut?. Kalau jawabannya 'ya', maka tidak ada lagi yang perlu dipersoalkan!. Tapi, kalau jawabannya 'bukan', maka bisa timbul masalah. Misalnya, standar kualitas ditetapkan oleh pemerintah, jaminan kualitas pendidikan diberikan oleh pemerintah juga sedangkan pengakuan kualitas dilakukan oleh kelompok pemakai lulusan. Industri pasti mempunyai standar sendiri yang belum tentu sama dengan standar yang sudah ditetapkan pemerintah. Begitu pula dengan perguruan tinggi, merekapun mempunyai standar kualitas pendidikan sendiri. Bagaimana dengan orang tua dan murid itu sendiri?, mereka tentu saja harus mengikuti standar yang ada. Bagi orang tua mungkin ada tambahan parameter seperti misalnya lulusan bisa diterima bekerja atau bisa diterima di perguruan tinggi dengan jurusan yang diinginkannya. Idealnya, standar kualitas pendidikan ditetapkan bersama oleh pemerintah, para guru, perguruan tinggi, orang tua murid dan bila perlu industri pemakai. Dengan cara demikian maka jaminan kualitas dan pengakuan atas kualitas pendidikan bisa diterima semua pihak. Tapi, yang ideal biasanya sulit direalisasikan, lagi pula penyandang dana pendidikan adalah pemerintah, jadi pemerintahlah yang paling berhak membuat standar kualitas.
Saat ini, parameter yang dipakai sebagai standar kualitas pendidikan adalah nilai-nilai mata pelajaran tertentu seperti Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Fisika, Biologi, Kimia, Sejarah, Geografi, ekonomi dan antropologi. Dengan demikian, kelulusannya tergantung dari tingkat kecerdasan siswa, termasuk daya ingat mereka. Faktor yang mempengaruhi tingkat kecerdasan dan daya ingat antara lain adalah genetik dan asupan gizi. Paling tidak ada 40% kontribusi faktor genetik atas kecerdasan dan daya ingat yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Asupan gizi punya peranan besar pula terhadap kualitas pendidikan, di samping faktor kemujuran, kualitas guru, kualitas materi pendidikan, sarana dan prasarana dan faktor kehidupan sosial. Mengingat asupan gizi berperan penting terhadap kualitas pendidikan, maka asupan gizi yang memadai sebaiknya menjadi bagian dari program peningkatan kualitas pendidikan.
Setelah standar kualitas pendidikan ditetapkan maka kini saatnya melakukan perbaikan-perbaikan atas kualitas yang masih di bawah standar. Sema pihak yang berkepentingan seyogyanya aktif terlibat dalam perbaikan kualitas pendidikan tersebut. Di masa mendatang, tuntutan kualitas pendidikan tentunya semakin tinggi, oleh karena itu, perlu dilakukan peningkatan standar kualitas dari yang sudah ada sekarang ini secara berkesinambungan. Standar kualitas memang tidak untuk diperdebatkan tetapi diperjuangkan agar bisa dicapai, demi kualitas manusia yang lebih baik.
Seandainya asupan gizi diperhitungkan dalam peningkatan kualitas pendidikan...
Seandainya penetapan standar kualitas pendidian melibatkan semua pihak yang berkepentingan...
Seandainya peningkatan kualitas dan standarnya ditingkatkan secara berkesinambungan...
Seandainya...
Rabu, 26 Desember 2007
Selasa, 18 Desember 2007
Inflasi dan daya beli
Bagi pemerintah, inflasi bisa berarti sebagai menurunnya nilai mata uang karena adanya kenaikan harga-harga barang dan jasa. Nilai inflasi biasanya dihitung kumulatif setahun. Sedangkan bagi rakyat seperti buruh industri dan buruh tani, istilah inflasi barangkali tidak bermakna sama sekali dan yang dirasakan oleh mereka adalah bahwa pendapatan mereka semakin tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup. Bila pemerintah berusaha menekan laju inflasi (seperti melalui operasi pasar dan subsidi) dengan tujuan mempertahankan daya beli masyarakat, maka hasilnya tidak akan sesuai dengan yang diharapkan. Inflasi adalah hasil akhir dari terjadinya kenaikan harga-harga sedangkan daya beli masyarakat sudah langsung turun terlebih dahulu saat harga-harga mulai naik. Bagi mereka, kenaikan harga barang dan jasa tidak menjadi masalah asalkan pendapatan mereka mampu mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Bagi industri (dan pengusaha), inflasi adalah indikasi untuk menaikkan upah buruh pada awal tahun berikutnya. Kenaikan harga barang dan jasa mereka di pasar akan memberikan tambahan keuntungkan, sedangkan kenaikan harga barang dan jasa dari pemasok hanya akan mengurangi sedikit keuntungannya. Pada industri yang menggunakan harga sebagai alat bersaing, menaikkan harga barang dan jasa yang diproduksi oleh mereka bisa mengurangi pendapatan bila kalah bersaing. Oleh karena itu, untuk mempertahankan daya saingnya, mereka akan melakukan usaha-usaha penghematan. Mereka akan bermanja-manja kepada pemerintah supaya tetap dapat subsidi BBM, supaya harga listrik tidak dinaikkan, menekan kenaikan upah buruh, dan sebagainya. Mereka bisa juga mempengaruhi pemerintah daerah dalam penetapan Upah Minimum. Dengan ikut mengatur Upah Minimum, mereka tanpa sadar bisa ikut menyebabkan daya beli masyarakat turun bila upah yang diterima buruh tidak mencukupi kebutuhan hidup. Beban industri (dan pengusaha) memang berat karena sebelum mereka bisa menikmati keuntungan, mereka harus membayar kewajibannya berupa bunga kepada bank yang memberikan pinjaman modal. Mereka juga harus membayar pajak yang besarnya bisa mencapai 35%. Dalam hal ini pemerintah barangkali masih diuntungkan meskipun harus memberi subsidi 10 - 20% atau bila bank yang memberi pinjaman modal adalah bank milik pemerintah.
Menaikkan daya beli masyarakat lebih penting dibandingkan menekan laju inflasi. Menekan laju inflasi melalui operasi pasar dan subsidi sering kali tidak efisien bila tidak boleh dikatakan pemborosan sedangkan menaikkan daya beli masyarakat bisa mendorong pertumbuhan konsumsi yang pada akhirnya menyerap tambahan investasi. Membahagiakan masyarakat dengan menaikkan pendapatannya (sehingga menaikkan daya belinya) akan dirasakan bertahun-tahun oleh para buruh dibandingkan rasa sakit yang cuma sekali dirasakan oleh industri (dan pengusaha) akibat kenaikan upah yang bisa menaikkan daya belinya. Industri (dan pengusaha) perlu didorong secara serius agar ikut meningkatkan kemakmuran rakyat. Industri yang berinovasi tidak akan merasakan kenaikan upah sebagai beban sehingga akan semakin berkembang dan yang hanya bersaing dalam harga murah hanya akan menyusahkan buruh.
Seandainya daya beli masyarakat ditingkatkan sehingga mempercepat kemakmuran rakyat...
Seandainya industri selalu berinovasi...
Seandainya...
Bagi industri (dan pengusaha), inflasi adalah indikasi untuk menaikkan upah buruh pada awal tahun berikutnya. Kenaikan harga barang dan jasa mereka di pasar akan memberikan tambahan keuntungkan, sedangkan kenaikan harga barang dan jasa dari pemasok hanya akan mengurangi sedikit keuntungannya. Pada industri yang menggunakan harga sebagai alat bersaing, menaikkan harga barang dan jasa yang diproduksi oleh mereka bisa mengurangi pendapatan bila kalah bersaing. Oleh karena itu, untuk mempertahankan daya saingnya, mereka akan melakukan usaha-usaha penghematan. Mereka akan bermanja-manja kepada pemerintah supaya tetap dapat subsidi BBM, supaya harga listrik tidak dinaikkan, menekan kenaikan upah buruh, dan sebagainya. Mereka bisa juga mempengaruhi pemerintah daerah dalam penetapan Upah Minimum. Dengan ikut mengatur Upah Minimum, mereka tanpa sadar bisa ikut menyebabkan daya beli masyarakat turun bila upah yang diterima buruh tidak mencukupi kebutuhan hidup. Beban industri (dan pengusaha) memang berat karena sebelum mereka bisa menikmati keuntungan, mereka harus membayar kewajibannya berupa bunga kepada bank yang memberikan pinjaman modal. Mereka juga harus membayar pajak yang besarnya bisa mencapai 35%. Dalam hal ini pemerintah barangkali masih diuntungkan meskipun harus memberi subsidi 10 - 20% atau bila bank yang memberi pinjaman modal adalah bank milik pemerintah.
Menaikkan daya beli masyarakat lebih penting dibandingkan menekan laju inflasi. Menekan laju inflasi melalui operasi pasar dan subsidi sering kali tidak efisien bila tidak boleh dikatakan pemborosan sedangkan menaikkan daya beli masyarakat bisa mendorong pertumbuhan konsumsi yang pada akhirnya menyerap tambahan investasi. Membahagiakan masyarakat dengan menaikkan pendapatannya (sehingga menaikkan daya belinya) akan dirasakan bertahun-tahun oleh para buruh dibandingkan rasa sakit yang cuma sekali dirasakan oleh industri (dan pengusaha) akibat kenaikan upah yang bisa menaikkan daya belinya. Industri (dan pengusaha) perlu didorong secara serius agar ikut meningkatkan kemakmuran rakyat. Industri yang berinovasi tidak akan merasakan kenaikan upah sebagai beban sehingga akan semakin berkembang dan yang hanya bersaing dalam harga murah hanya akan menyusahkan buruh.
Seandainya daya beli masyarakat ditingkatkan sehingga mempercepat kemakmuran rakyat...
Seandainya industri selalu berinovasi...
Seandainya...
Senin, 10 Desember 2007
Solusi sederhana pengurangan karbon di udara (?) - Postulat
Secara teoritis, pada kondisi panas dan tekanan tertentu, karbon dioksida bisa terjadi reaksi kimia dengan amonia dan akan menghasilkan urea. Reaksi di atas berlangsung dua tahap di mana tahap 1 menghasilkan panas dan tahap 2 menyerap panas. Urea yang mudah larut dalam air akan menyerap panas.
Di alam yang terbuka, apabila uap amonia bisa berdekatan dengan gas karbon dioksida di udara jauh dari permukaan bumi, mereka bisa bersatu, bereaksi secara kimiawi dengan bantuan halilintar atau petir di daerah awan di atas sana dan bisa menghasilkan urea yang larut dalam air dan turun ke bumi dalam bentuk hujan. Pengiriman amonia ke daerah yang banyak mengandung karbon dioksida bisa mengurangi kadar karbon dioksida di udara dan menurunkan suhu udara. Urea yang terbentuk dan jatuh ke bumi akan menyuburkan tanah di sekitarnya karena urea adalah pupuk bagi tanaman. Dengan demikian, amonia diperkirakan bisa menurunkan kadar karbon dioksida di udara sekaligus menyuburkan tanah di bumi.
Dengan teori yang sama, kita bisa bangun banyak pabrik pupuk di daerah produsen energi seperti produsen listrik, keramik, logam dan pabrik-pabrik lainnya yang menggunakan bahan bakar batubara atau bahan bakar minyak sebagai sumber energinya. Sedangkan dari sisi ekonomisnya masih harus dihitung lagi. Dengan cara ini kita akan bisa ekspor pupuk urea dalam jumlah besar.
Secara teoritis, gangguan ekosistem akibat dari kelebihan karbon dioksida di udara, akan menyebabkan bumi berusaha mencapai keseimbangan ekosistem yang baru dengan memproduksi amonia. Sumber amonia di bumi adalah protein manusia dan binatang. Pembusukan protein manusia dan binatang akan menghasilkan amonia alami. Bumi menimbulkan bencana alam melalui gempa bumi, udara panas, badai, banjir, dan berbagai penyakit agar banyak manusia dan binatang mati, mengalami pembusukan dan akhirnya menghasilkan amonia. Amonia inilah yang akan bereaksi dengan karbon dioksida di udara menghasilkan urea sehingga suhu udara bumi turun, karbon dioksida berkurang, pemanasan global berkurang, jumlah populasi manusia dan binatang berkurang dan tanah menjadi lebih subur. Suatu keseimbangan ekosistem terbentuk kembali dengan sendirinya.
Seandainya postulat di atas benar...
Seandainya bisa direalisasikan...
Seandainya...
Di alam yang terbuka, apabila uap amonia bisa berdekatan dengan gas karbon dioksida di udara jauh dari permukaan bumi, mereka bisa bersatu, bereaksi secara kimiawi dengan bantuan halilintar atau petir di daerah awan di atas sana dan bisa menghasilkan urea yang larut dalam air dan turun ke bumi dalam bentuk hujan. Pengiriman amonia ke daerah yang banyak mengandung karbon dioksida bisa mengurangi kadar karbon dioksida di udara dan menurunkan suhu udara. Urea yang terbentuk dan jatuh ke bumi akan menyuburkan tanah di sekitarnya karena urea adalah pupuk bagi tanaman. Dengan demikian, amonia diperkirakan bisa menurunkan kadar karbon dioksida di udara sekaligus menyuburkan tanah di bumi.
Dengan teori yang sama, kita bisa bangun banyak pabrik pupuk di daerah produsen energi seperti produsen listrik, keramik, logam dan pabrik-pabrik lainnya yang menggunakan bahan bakar batubara atau bahan bakar minyak sebagai sumber energinya. Sedangkan dari sisi ekonomisnya masih harus dihitung lagi. Dengan cara ini kita akan bisa ekspor pupuk urea dalam jumlah besar.
Secara teoritis, gangguan ekosistem akibat dari kelebihan karbon dioksida di udara, akan menyebabkan bumi berusaha mencapai keseimbangan ekosistem yang baru dengan memproduksi amonia. Sumber amonia di bumi adalah protein manusia dan binatang. Pembusukan protein manusia dan binatang akan menghasilkan amonia alami. Bumi menimbulkan bencana alam melalui gempa bumi, udara panas, badai, banjir, dan berbagai penyakit agar banyak manusia dan binatang mati, mengalami pembusukan dan akhirnya menghasilkan amonia. Amonia inilah yang akan bereaksi dengan karbon dioksida di udara menghasilkan urea sehingga suhu udara bumi turun, karbon dioksida berkurang, pemanasan global berkurang, jumlah populasi manusia dan binatang berkurang dan tanah menjadi lebih subur. Suatu keseimbangan ekosistem terbentuk kembali dengan sendirinya.
Seandainya postulat di atas benar...
Seandainya bisa direalisasikan...
Seandainya...
Selasa, 04 Desember 2007
Pemanasan global dan keseimbangan ekosistem
Manusia moderen, yang umumnya tinggal di kota-kota menyadari
bahwa hidup hanya sekali dan harus dinikmati. Kenikmatan duniawi ini ternyata membutuhkan energi yang tidak sedikit. Beruntunglah manusia, karena anugerah kepandaiannya membuat mereka bisa menemukan dan mengolah sumber energi sesuai dengan kebutuhannya. Semakin banyak manusia yang ingin menikmati hidup dan semakin banyak kebutuhan kenikmatan manusia, akan semakin banyak pula energi yang dikonsumsinya.
Syukurlah bahwa alam menyediakan sumber energi ini dalam jumlah yang cukup, sehingga sampai hari ini, manusia belum mengalami malapetaka karena menikmati hidup tersebut. Pertumbuhan ekonomi dunia sudah pasti akan mendorong konsumsi energi yang lebih besar lagi.
Manusia sudah menyadari bahwa ada energi yang tidak terbarukan dan ada pula yang bisa diperbaharui. Tapi karena sifat manusia yang ekonomis, maka mereka memilih energi yang lebih murah untuk kenikmatan hidupnya. Kondisi saat ini, minyak bumi masih menjadi pilihan pertama. Kepandaian mereka akan membuat mereka selalu mencari pilihan sumber energi yang paling ekonomis dan bisa terbarukan sehingga mereka
akan senantiasa tidak berkekurangan dalam penyediaan energi.
Manusia pada akhirnya menyadari bahwa mengolah sumber energi memberikan efek samping yang kurang bersahabat bagi lingkungan hidup manusia itu sendiri. Menurut penelitian mereka, pemanasan global adalah salah satu efek samping tersebut. Diyakini oleh mereka bahwa konsumsi energi berbahan karbon telah meningkatkan kandungan karbon dioksida
di muka bumi yang kemudian meningkatkan suhu bumi dan solusinya sangat sederhana yaitu dengan menanam pohon dalam jumlah yang banyak untuk menyerap karbon dioksida dari udara. Solusi ini nampaknya terlalu mudah dan belum terbukti efektivitasnya. Manusia sebaiknya mencari tahu lebih banyak hal-hal lain yang menyebabkan suhu bumi naik disamping karena bertambahnya karbon dioksida bumi. Bagaimana dengan efek samping penambangan minyak dan bahan mineral lainnya yang telah melubangi bagian dalam bumi?, atau bagaimana kalau bumi mendekati matahari?, atau barangkali permukaan bumi bertambah panas karena aktivitas di bagian dalam bumi?.
Sebagaimana diyakini manusia bahwa ekonomi akan selalu mencari keseimbangan, begitu pula dengan bumi dan alamnya yang akan selalu mencari keseimbangan, sebuah keseimbangan yang dinamis. Barangkali keseimbangan yang dinamis inilah yang harus dipelajari manusia agar kelangsungan hidupnya bisa lebih terjamin. Apakah pemanasan global merupakan reaksi alam dalam menyeimbangkan ekosistemnya ataukah awal dari ketidak-seimbangan ekosistem? Kejadian-kejadian alam yang dianggap sebagai musibah bagi manusia seperti banjir di beberapa benua, badai topan, dan gempa bumi perlu dicermati pula kaitannya dengan keseimbangan ekosistem. Apabila sistem planet ini berada dalam keseimbangan yang dinamis, boleh jadi bahwa bumi tidak selalu dalam lingkungan yang sama. Bisa jadi bahwa bumi dan planet lainnya beserta matahari terus bergerak mengembara di alam semesta ini dan hal ini
pula yang mempengaruhi perubahan-perubahan di muka bumi ini.
Dengan model pemikiran yang logis, maka bisa diyakini bahwa pemanasan global adalah awal dari ketidak-seimbangan ekosistem alam. Logikanya adalah bahwa kenaikan suhu bumi telah mencairkan es di kutub utara sehingga permukaan air laut naik dan hujan yang ditimbulkan oleh bertambahnya air ini menyebabkan banjir di bumi bagian Utara seperti benua Amerika, Eropa, Afrika dan Asia. Australia menjadi benua yang paling aman karena berada di bagian Selatan bumi. Apabila kondisi pemanasan global ini berlanjut maka bisa ada skenario bahwa manusia yang hidup di bagian Utara bumi akan bermigrasi ke Selatan dengan cara apapun untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan keturunannya. Manusia yang hidup di daerah sub tropis dan tropis akan
berjuang membendung migrasi ini karena tingkat kepadatan penduduknya yang sudah tinggi, sembari bertahan hidup dari panasnya bumi, kekeringan dan kemiskinan, penyakit-penyakit baru akan tercipta sampai keseimbangan ekosistem yang baru terbentuk kembali termasuk melalui seleksi alam, kondisi ini bisa juga menjadi sebuah awal datangnya kiamat.
Pemanasan global bisa jadi merupakan cara bumi membuat keseimbangan ekosistem yang dinamis. Suatu hal yang wajar bila konsumsi energi bertambah dan produksi karbon dioksida meningkat karena jumlah penduduk dunia bertambah setiap tahun. Meningkatnya jumlah penduduk akan meningkatkan kebutuhan air baik untuk diri manusia itu sendiri, dan lingkungan di sekitarnya termasuk tanaman yang menjadikan air sebagai kebutuhan utamanya. Kebutuhan air yang meningkat ini dipasok oleh es yang ada di kutub Utara yang dicairkan oleh panas di muka bumi. Logikanya, tanpa konsumsi minyak bumipun, pemanasan global akan terjadi karena bertambahnya jumlah penduduk dunia dan konsumsi energi minyak bumi dan pengurangan luas hutan, mungkin sedikit mempercepatnya. Bumi memang sudah tidak mungkin seperti dulu lagi karena takdir manusia adalah berkembang biak dan memenuhi muka
bumi.
Pemanasan global memang sudah terjadi dan tidak akan bisa dicegah ataupun ditanggulangi, nampaknya kita juga sudah sepakat bahwa pemanasan global disebabkan oleh meningkatnya jumlah karbon dioksida di permukaan bumi dan program pengurangan emisi tidak akan mampu menahan penambahan jumlah karbon dioksida di muka bumi selama energi diproduksi dengan bahan karbon, sehingga yang penting bagi kita sekarang ini adalah bagaimana kita bisa bertahan hidup dengan adanya
pemanasan global dan tetap konsisten dengan cita-cita bangsa yaitu untuk mensejahterakan rakyat. Artinya, segala upaya yang dilakukan untuk kepentingan negara lain tidak ada yang gratis lagi, apalagi untuk kenikmatan hidup negara lain yang lebih kaya. Setiap jasa yang kita berikan harus ada imbalannya yang nantinya akan dipakai untuk mensejahterakan rakyat. Kita harus komersial!.
Seandainya kita tetap konsisten dan selalu ingat dengan cita-cita membuat sejahtera rakyat...
Seandainya kita selalu menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama pembangunan...
Seandainya...
bahwa hidup hanya sekali dan harus dinikmati. Kenikmatan duniawi ini ternyata membutuhkan energi yang tidak sedikit. Beruntunglah manusia, karena anugerah kepandaiannya membuat mereka bisa menemukan dan mengolah sumber energi sesuai dengan kebutuhannya. Semakin banyak manusia yang ingin menikmati hidup dan semakin banyak kebutuhan kenikmatan manusia, akan semakin banyak pula energi yang dikonsumsinya.
Syukurlah bahwa alam menyediakan sumber energi ini dalam jumlah yang cukup, sehingga sampai hari ini, manusia belum mengalami malapetaka karena menikmati hidup tersebut. Pertumbuhan ekonomi dunia sudah pasti akan mendorong konsumsi energi yang lebih besar lagi.
Manusia sudah menyadari bahwa ada energi yang tidak terbarukan dan ada pula yang bisa diperbaharui. Tapi karena sifat manusia yang ekonomis, maka mereka memilih energi yang lebih murah untuk kenikmatan hidupnya. Kondisi saat ini, minyak bumi masih menjadi pilihan pertama. Kepandaian mereka akan membuat mereka selalu mencari pilihan sumber energi yang paling ekonomis dan bisa terbarukan sehingga mereka
akan senantiasa tidak berkekurangan dalam penyediaan energi.
Manusia pada akhirnya menyadari bahwa mengolah sumber energi memberikan efek samping yang kurang bersahabat bagi lingkungan hidup manusia itu sendiri. Menurut penelitian mereka, pemanasan global adalah salah satu efek samping tersebut. Diyakini oleh mereka bahwa konsumsi energi berbahan karbon telah meningkatkan kandungan karbon dioksida
di muka bumi yang kemudian meningkatkan suhu bumi dan solusinya sangat sederhana yaitu dengan menanam pohon dalam jumlah yang banyak untuk menyerap karbon dioksida dari udara. Solusi ini nampaknya terlalu mudah dan belum terbukti efektivitasnya. Manusia sebaiknya mencari tahu lebih banyak hal-hal lain yang menyebabkan suhu bumi naik disamping karena bertambahnya karbon dioksida bumi. Bagaimana dengan efek samping penambangan minyak dan bahan mineral lainnya yang telah melubangi bagian dalam bumi?, atau bagaimana kalau bumi mendekati matahari?, atau barangkali permukaan bumi bertambah panas karena aktivitas di bagian dalam bumi?.
Sebagaimana diyakini manusia bahwa ekonomi akan selalu mencari keseimbangan, begitu pula dengan bumi dan alamnya yang akan selalu mencari keseimbangan, sebuah keseimbangan yang dinamis. Barangkali keseimbangan yang dinamis inilah yang harus dipelajari manusia agar kelangsungan hidupnya bisa lebih terjamin. Apakah pemanasan global merupakan reaksi alam dalam menyeimbangkan ekosistemnya ataukah awal dari ketidak-seimbangan ekosistem? Kejadian-kejadian alam yang dianggap sebagai musibah bagi manusia seperti banjir di beberapa benua, badai topan, dan gempa bumi perlu dicermati pula kaitannya dengan keseimbangan ekosistem. Apabila sistem planet ini berada dalam keseimbangan yang dinamis, boleh jadi bahwa bumi tidak selalu dalam lingkungan yang sama. Bisa jadi bahwa bumi dan planet lainnya beserta matahari terus bergerak mengembara di alam semesta ini dan hal ini
pula yang mempengaruhi perubahan-perubahan di muka bumi ini.
Dengan model pemikiran yang logis, maka bisa diyakini bahwa pemanasan global adalah awal dari ketidak-seimbangan ekosistem alam. Logikanya adalah bahwa kenaikan suhu bumi telah mencairkan es di kutub utara sehingga permukaan air laut naik dan hujan yang ditimbulkan oleh bertambahnya air ini menyebabkan banjir di bumi bagian Utara seperti benua Amerika, Eropa, Afrika dan Asia. Australia menjadi benua yang paling aman karena berada di bagian Selatan bumi. Apabila kondisi pemanasan global ini berlanjut maka bisa ada skenario bahwa manusia yang hidup di bagian Utara bumi akan bermigrasi ke Selatan dengan cara apapun untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan keturunannya. Manusia yang hidup di daerah sub tropis dan tropis akan
berjuang membendung migrasi ini karena tingkat kepadatan penduduknya yang sudah tinggi, sembari bertahan hidup dari panasnya bumi, kekeringan dan kemiskinan, penyakit-penyakit baru akan tercipta sampai keseimbangan ekosistem yang baru terbentuk kembali termasuk melalui seleksi alam, kondisi ini bisa juga menjadi sebuah awal datangnya kiamat.
Pemanasan global bisa jadi merupakan cara bumi membuat keseimbangan ekosistem yang dinamis. Suatu hal yang wajar bila konsumsi energi bertambah dan produksi karbon dioksida meningkat karena jumlah penduduk dunia bertambah setiap tahun. Meningkatnya jumlah penduduk akan meningkatkan kebutuhan air baik untuk diri manusia itu sendiri, dan lingkungan di sekitarnya termasuk tanaman yang menjadikan air sebagai kebutuhan utamanya. Kebutuhan air yang meningkat ini dipasok oleh es yang ada di kutub Utara yang dicairkan oleh panas di muka bumi. Logikanya, tanpa konsumsi minyak bumipun, pemanasan global akan terjadi karena bertambahnya jumlah penduduk dunia dan konsumsi energi minyak bumi dan pengurangan luas hutan, mungkin sedikit mempercepatnya. Bumi memang sudah tidak mungkin seperti dulu lagi karena takdir manusia adalah berkembang biak dan memenuhi muka
bumi.
Pemanasan global memang sudah terjadi dan tidak akan bisa dicegah ataupun ditanggulangi, nampaknya kita juga sudah sepakat bahwa pemanasan global disebabkan oleh meningkatnya jumlah karbon dioksida di permukaan bumi dan program pengurangan emisi tidak akan mampu menahan penambahan jumlah karbon dioksida di muka bumi selama energi diproduksi dengan bahan karbon, sehingga yang penting bagi kita sekarang ini adalah bagaimana kita bisa bertahan hidup dengan adanya
pemanasan global dan tetap konsisten dengan cita-cita bangsa yaitu untuk mensejahterakan rakyat. Artinya, segala upaya yang dilakukan untuk kepentingan negara lain tidak ada yang gratis lagi, apalagi untuk kenikmatan hidup negara lain yang lebih kaya. Setiap jasa yang kita berikan harus ada imbalannya yang nantinya akan dipakai untuk mensejahterakan rakyat. Kita harus komersial!.
Seandainya kita tetap konsisten dan selalu ingat dengan cita-cita membuat sejahtera rakyat...
Seandainya kita selalu menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama pembangunan...
Seandainya...
Langganan:
Postingan (Atom)