Ada yang bilang kita masuk dalam jebakan pangan karena ketergantungan yang tinggi terhadap pangan impor dan kita tidak mau berada dalam jebakan pangan ini sehingga perlu riset agar produk pangan kita bisa bersaing dengan produk impor, khususnya pangan non beras. Kedua hal di atas memang berkaitan tapi kaitannya tidak kuat karena antara riset dan kemandirian pangan dipisahkan oleh proses yang panjang, maksudnya untuk menghasilkan produk pangan yang bisa bersaing dengan barang impor butuh banyak tahapan proses di mana tiap tahapannya mempunyai peluang untuk tidak berhasil dan membutuhkan waktu yang lama, bisa lebih dari 10 tahun. Sedangkan selama periode itu, produsen produk impor juga melakukan riset dengan dana yang lebih besar sehingga ketika riset tersebut sudah selesai dilaksanakan, produk lokal masih juga kalah bersaing dengan produk impor.
Keluar dari jebakan pangan berarti memproduksi sendiri kebutuhan pangan. Karena waktunya mendesak maka solusinya adalah membuka lahan pertanian seluas-luasnya dengan mempermudah perijinan dalam produksi produk pangan tersebut. Supaya bisa bersaing dengan produk impor maka perlu dievaluasi apa penyebabnya?. Bila penyebabnya adalah bibit dan produktivitas maka lebih baik beli dan atau kerja sama dengan pemilik bibit (ada yang bilang, teknologi bisa dibeli). Pada dasarnya, produk lokal harus dilindungi, termasuk dengan subsidi dan kuota pangan impor. Dengan demikian, produk pangan impor tidak perlu lagi menjadi senjata untuk mengendalikan inflasi.
Riset tetap dibutuhkan tapi karena butuh biaya besar dan waktu yang lama maka bukan prioritas utama, sedangkan anggaran pendidikan lebih baik untuk membiayai pengembangan sumber daya manusianya, bukan membiayai penelitian produk pangannya.
Bagaimana?
Rabu, 03 September 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar