Senin, 10 November 2008

Harga USD dan stabilitas harga

Analis keuangan menyatakan bahwa kenaikan nilai mata uang USD di Asia disebabkan karena penarikan uang USD di Asia ke Amerika Serikat untuk mengatasi krisis keuangan yang terjadi di negara tersebut. Jadi, USD itu semacam komoditi yang nilainya mengikuti hukum penawaran dan permintaan. Penarikan USD dari Asia ke USA menyebabkan pasokan USD menurun sehingga harganya naik dan kenaikannya semakin tinggi karena meningkatnya permintaan.

Kenaikan permintaan ini bisa jadi dipicu oleh kekawatiran para pemilik uang akan menurunnya nilai mata uang lokal, sehingga mereka mengkonversikan uang lokal mereka ke USD. Keadaan ini tidak menguntungkan pemerintah setempat yang berusaha mempertahankan nilai mata uang lokal mereka, mereka terpaksa mengeluarkan cadangan devisa masing-masing agar nilai mata uang mereka tidak jatuh. Bagi negara yang cadangan devisanya besar seperti China misalnya, nilai USD bisa dibuat tetap. Bagi kita yang cadangan devisanya tidak banyak, mempertahankan nilai kurs USD bisa menghabiskan cadangan devisa. Satu hal yang patut direnungkan adalah bahwa pemerintah berusaha mempertahankan nilai mata uangnya terhadap USD guna membantu pelaku usaha supaya bisnis bisa tetap lancar, tetapi pemilik usaha mengamankan kekayaannya dengan memborong USD yang justru akan menaikkan nilai mata uang USD tersebut.

Pemerintah Amerika Serikat kabarnya menjamin bahwa setiap lembar USD yang mereka edarkan di seluruh dunia dijamin oleh cadangan emas yang mereka miliki. Hal inilah barangkali yang membuat uang USD diterima di banyak negara dan menjadi komoditi. Setiap tambahan cadangan emas yang mereka miliki bisa dicetak tambahan uang USD yang kemudian diperdagangkan ke negara lain. Sebagai komoditi, USD menguasai pasar uang, mengalahkan mata uang Yen, Poundsterling dan Euro, bahkan mungkin sudah memonopoli pasar uang dunia, sehingga menjadi lebih mudah dalam mengatur harganya. Euro sebenarnya diharapkan bisa menjadi lawan tandingnya tapi bila tidak ada jaminan cadangan emas seperti USD, nampaknya akan sulit bersaing melawan USD. Begitu pula dengan mata uang SDR (Special Drawing Right).

Barangkali cara untuk mempertahankan nilai kurs terhadap USD yaitu dengan menambah cadangan devisa USD, dengan cara meningkatkan surplus perdagangan ekspor-impor. Sedangkan investasi asing di pasar modal maupun di usaha riil sebaiknya tidak diperhitungkan dalam penambahan karena bisa keluar lagi sewaktu-waktu kecuali ada perjanjian kerja sama jangka waktu minimal keberadaannya di sini, seperti halnya dengan pinjaman luar negeri ataupun penjualan obligasi baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta yang harus dikembalikan saat jatuh tempo pembayaran. Perlu pengawasan,analisis dan evaluasi terhadap praktek 'transfer pricing' dan repatriasi pendapatan PMA.

Memang benar bahwa harga USD yang lebih tinggi bisa menaikkan daya saing dari sisi harga produk tapi tidak ada jaminan bisa menghasilkan devisa karena pesaingpun bisa melakukan hal yang sama. Bila kalah bersaing di kualitas maka tambahan devisapun batal diperoleh. Seandainya berhasil menghasilkan devisa maka dengan harga lokal yang sama akan menghasilkan devisa dengan nilai yang lebih rendah.

Mempertahankan stabilitas nilai kurs terhadap USD tetap pilihan terbaik terutama bagi kalangan dunia usaha paling tidak untuk jangka waktu satu tahun, sedangkan untuk tahun selanjutnya bisa diatur lagi sesuai kondisi persaingan usaha, ketersediaan devisa dan kondisi pasar uang dunia.